Mendongak ke langit. Tak bermaksud aku berjalan berdepang dada. Tak bermaksud aku sombong tak berpijak di bumi yang nyata. Kadang kala aku mendongak ke langit mencari suatu ketenangan yang tak mungkin dapat di rasa manusia sama manusia tapi mungkin dapat aku rasa bila aku dan DIA.
Mendongak ke langit mencari makna, apakah itu ketenangan yang aku mahukan jika aku hidup di dunia tanpa pegangan, jika aku hidup di dunia tanpa peringatan. Aku memperingatkan diri aku yang mungkin lalai mencari makna kebahagiaan bersama manusia tetapi yang sebenarnya kebahagiaan yang hakiki itu hanya aku dan DIA.
Hembusan nafas ku hela, segumpal keluhan yang membebankan, aku masih terpaku mendongak ke langit, setitis demi setitis tangisan menimpa pipi, lalu ku sapu ku harap ketenangan datang bertubi-tubi.
Dikau yang amat memahami, Ku harapkan ketenangan ini, ku harapkan aku mampu melalui setelah aku penat menerokai dua cabang jalan yang aku sukar untuk membuat pilihan. Tanpa jemu aku mendongak ke langit, mengharapkan cahaya langit tidak menghilang walaupun pasti ia akan di kunjungi malam.
Hembusan nafas ku hela lagi. Kali ini ku dapat rasakan, ketenangan yang hakiki setelah aku bertemu denganMU yang dikasihi. Bersedia! Lari ke hadapan. Jangan berundur. Bimbang aku jatuh tersungkur!
Baru ku tahu, pelangi itu indah.






